Rinai hujan masih turun deras ketika tamu keluarga pelamar pria datang. Ida duduk gelisah di kamarnya yang mungil, hatinya berdebar menunggu panggilan keluar dari neneknya.
Tak ada bayangan sebelumnya, dia akan mendapat pinangan cepat selepas lulus sekolah. Baru dua hari yang lalu dia merayakan kelulusan SMA bersama teman-temannya. Dalam perayaan itu masing-masing siswa mengungkapkan cita-cita mereka selepas sekolah. Rata-rata ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, walau nilai Ida bagus di sekolah, Ida hanya bercita-cita untuk bekerja. Membiayai dirinya dan nenek tercinta, yang telah mengasuhnya sejak kecil. Tina, salah satu juara kelas menawarkan Tina pekerjaan di toko saudaranya di daerah kota. Tina sendiri akan kuliah di ibu kota. Mendapat tawaran itu Ida langsung menyanggupinya. Selain ia kenal dengan saudara Tina, ia juga masih bisa tinggal sama neneknya. Rencananya, hari ini Ida akan ke kota, mengajukan lamaran dan bertemu saudara Tina. Namun, semalam nenek menyuruhnya tinggal di rumah karena akan kedatangan tamu. Yah, dan pagi harinya nenek menceritakan bahwa tamu yang dating itu adalah yang akan melamarnya.
Antara bingung dan gelisah, Ida hanya terdiam mendapat kabar tersebut. Nenek sangat antusias ketika bercerita tentang calon suaminya. Laki-laki itu adalah anak Pak Wiguna, juragan padi dari desa tetangga. Dia bernama Arya, sudah lulus kuliah, dan sekarang menjadi manajer penerbitan buku. Selain kaya dan pintar, laki-laki ini juga terkenal baik dan soleh. Alangkah sempurnanya laki-laki yang nenek ceritakan itu, renung Ida.
Ida tidak memiliki cita-cita yang muluk. Ia hanya ingin membahagiakan neneknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kedua orangtuanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas tatkala ia masih berusia tujuh tahun. Bis yang ditumpangi kedua orang tuanya tergelincir masuk jurang, saat mereka mudik lebaran. Tak banyak yang diingat oleh Ida tentang orang tuanya. Sejak umur tiga tahun, Ida sudah tinggal dengan neneknya. Orang tuanya merantau ke kota Bandung untuk berjualan.
Meskipun nenek Ida memiliki sawah dan kebun-walaupun hanya beberapa meter, tetapi Bapak Ida merasa tidak berbakat dalam bertani, maka ia pergi ke kota untuk berdagang. Di sana ia bertemu dengan Ibu Ida, karyawan pabrik tekstil. Itu yang nenek Ida ceritakan kepadanya. Masih terbayang dalam ingatan Ida, kegembiraan menjelang lebaran tahun itu hilang, seiring dengan dengan ditelan lebaran tahun itu ia lewati dengan kesedihan dan duka cita. Orang tuanya yang merantau ke kota Bandung untuk berjualan Somay, kegembiraan menjelang lebaran yang selalu dinantinya hilang tatkala kedua orang tuanya yang selalu pulang ketika lebaran, meninggal. Bis yang dinaiki kedua orang tuanya masuk jurang.
Nenek, adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Maka, ketika nenek bicara soal lamaran, Ida hanya diam, mematuhi apa yang diinginkan neneknya.
“Ida… keluar Nak, keluarga Nak Arya ingin bertemu denganmu,” terdengar suara Nenek memanggil.
“Iya Nek…” Ida membuka pintu kamar. Dan langsung ia melihat keluarga calon suaminya, yang ternyata mereka datang cukup banyak.
Dengan tersipu malu Ida duduk di sebelah neneknya. Tidak hanya orang-orang yang belum Ida kenal yang ada, Pak RT, dan Pak Haji Jaka, yang biasa imam masjid juga hadir.
“Nak, keluarga Pak Wiguna ingin mengajukan lamaran kepadamu untuk putranya, Nak Arya. Ini fotonya,” Pak Haji menyodorkan selembar foto ke Ida. Ida menerima foto tersebut. “Nak Arya lagi ada rapat mendadak yang tidak bias ia tinggal, padahal dia sudah ada di sini dari kemarin.”
Ida memandang foto yang ada di tangannya. Laki-laki di foto itu menarik, dan cukup tampan. Tapi Ida tidak bias memastikannya, bagaimana pun itu hanyalah foto, yang terkadang tidak sama dengan wujud fisiknya.
“Gimana, apakah Neng Ida mau menerimanya?” Pak Haji Jaka kembali bertanya.
Ida hanya diam menunduk.
“Diam itu biasanya setuju Pak Haji,” ujar Pak RT. “Gimana Neng Ida, betul nggak kata Bapak,” kata Pak RT sambil tersenyum.
Ida semakin diam, namun terlihat wajahnya tersipu malu. Ida pun mengangguk tanda setuju.
“Alhamdulillah, Neng Ida setuju,” kata Pak Haji Jaka.
“Saya sangat senang Neng Ida menerimanya. Ini ada hadiah dari keluarga kami sebagai tanda jadi bahwa Neng Ida calon istri anak kami,” kata Pak Wiguna sambil memberikan kotak perhiasan. Ida hanya diam. “Mohon cincinnya tunangannya Neng Ida pake, dan Arya juga member hape buat komunikasi Neng Ida dan Arya.” Istri Pak Wiguna menyerahkan bungkusan hape. “Di dalamnya juga sudah ada kartu perdananya, sengaja Arya yang memilih kartunya.”
“Terima kasih,” kata Ida.
Proses pertunangan pun terus berlanjut, tapi Ida tak menyadarinya. Dia hanya menatap foto calon suami yang belum ia kenal. “Sebegitu pentingnya rapat itu, sampai dia tidak menghadiri lamarannya sendiri,” lirih Ida dalam hati.
Rumah kembali sepi, hanya suara air pancuran yang kembali terdengar. Semua tamu sudah pulang, termasuk Pak Haji Jaka dan Pak RT. Nenek sudah masuk kamar, ingin istirahat katanya, setelah seharian menyiapkan acara pertunangan.
Tok…tok…tok… terdengar suara pintu yang diketuk. Ida yang duduk menatap foto ke depan dan membuka pintu, “Tirta?”
“Ida, benarkah kamu sudah tunangan?”
“Ta…tau dari mana?” Tanya Ida gugup.
“Tadi aku beli rokok ke warung Pak Haji Jaka, katanya dia habis jadi saksi kamu tunangan?” kata Tirta mnggebu-gebu. “Da, kenapa kamu begitu? Kamu anggap apa hubungan kita selama ini? Tega-teganya kamu bertunangan dengan laki-laki lain?”
Ida hanya diam.
“Kenapa diam saja Da?” bentak Tirta.
“Maaf…”
“Maaf? Itu saja? Ooooh… dasar perempuan matre,” bentak Tirta sambil pergi berlalu.