RSS

Nini Anteh dalam Wajah Rembulan

30 Sep

Malam gelap. Langit berwajah abu-abu, berhiaskan bintang-bintang yang berkerlap kerlip . Rembulan bersinar terang, bulat indah menyala. Cahayanya merah kekuning-kuningan bagai bulatan emas logam yang menggantung indah, seakan ingin dipetik dan disimpan dalam kotak berlapis baja.

Larasati duduk di atas di pan di bawah pohon mangga, menatap rembulan sambil mencebik seperti yang menahan nangis dan marah. Sesekali Larasati menatap ke dalam rumah, seperti menunggu seseorang keluar dari rumah sederhana itu. Sesuai dengan harapan Larasati, Nenek Ida keluar sambil berselimutkan baju hangat tebal. Melihat neneknya datang, Larasati memalingkan muka. Larasati marah. Dia ingin ikut Bundanya ke luar negeri. Kebetulan, ayahnya mendapat tugas ke luar negeri, dan hanya bisa ngajak Bundanya. Waktunya bertepatan dengan liburan sekolah Larasati. Bunda dan ayahnya tidak mengijinkan, Larasati malah dibawa ke desa, ke tempat neneknya. Alhasil, dia sekarang berada di kampung yang tidak ada TV, apalagi komputer buat main game.

“Neng Laras, dah malem. Ayo masuk Nak!” Suara lembut Nenek Ida menyapa Larasati. Larasati hanya diam. Dia malah menatap bulan yang semakin bersinar terang.

Nenek Ida menghampiri Larasati dan duduk di samping cucu kesayangannya itu. Nenek Ida pun mengikuti tatapan cucunya, menatap bulan.

“Bulannya indah ya Neng,” tanpa berpaling menatap bulan. “Bulan itu ada penghuninya.”

“Betul Nek?” Larasati mulai berpaling ke arah neneknya.

“Iya, ada Nini Anteh dan kucingnya. Nama kucingnya Candramawat.”

“Kok bisa ada di bulan Nek? Biasanya kan yang ke bulan astronot?” Larasati memperbaiki duduknya.

“Nini Anteh dan kucingnya ini pergi ke bulan sebelum para astronot datang. Lihatlah bulan! Ada bayangan nenek yang sedang nenun, dan di sebelahnya ada kucing kan?” Nenek Ida menunjuk rembulan. Larasati mengangguk.

“Pada jaman dahulu, ada seorang nenek yang biasa nenun kantih. Kantih itu benang tenun. Orang-orang pun memanggilnya Nini Anteh. Nini Anteh ini tidak punya anak, tapi dia punya kucing yang selalu setia menemaninya. Kucing ini berbulu putih, merah dan hitam, dan diberi nama Kucing Candramawat.

“Suatu hari Nini Anteh bilang ke suaminya, Aki Balangantrang, bahwa ia bermimpi pergi ke bulan. Aki Balangantrang pun mengijinkan Nini Anteh pergi ke bulan. Setelah mendapat ijin, Nini  Anteh pun pergi ke bulan bersama kucingnya. Dia juga membawa semua alat tenunnya. Dia terbang dengan selendang putih warisan yang dimiliki secara turun temurun. Sebelum pergi Aki Balangantrang berpesan, ‘Pergilah istriku, semoga kamu bahagia di sana.’

‘Makasih Aki sudah mengijinkan Nini pergi. Nini akan pulang setiap kali tenunan Nini selesai,’ kata Nini Anteh.

Demikianlah, setiap menyelesaikan tenunan, Nini Anteh selalu pulang ke bumi untuk memberikan hasil tenunannya kepada Aki Balangantrang. Aki pun lalu menjualnya. Setelah Aki Balangantrang tiada, Nini Anteh tetap turun memberikan hasil tenunannya kepada orang miskin, yang membutuhkan tenunannya.”

Nenek Ida terdiam. Ia kembali menatap rembulan, yang kali ini terhalang awan tipis malam. “Bunda dan teman-temannya selalu bermain di halaman, terutama bila malam bulan purnama. Bermain kucing-kucingan dan bernyanyi riang.”

“Bernyanyi?” tanya Larasati penasaran.

“Bulan tok, bulan tok ada bulan segede batok.

Bulan pak, bulan pak ada bulan segede opak
Bulan ruk, bulan ruk ada bulan segede jeruk
Bulanting, bulanting ada bulan segede piring.

bulan pir, bulan pir ada bulan segede tampir.” (*lagu anonim)

“Lucu ya Nek, lagunya?”

“Iya,” nenek tersenyum. “Kalau lagi bulan gerhana, ada juga lagunya.”

“Apa?”

“Trang-trang kolentrang – si londok paeh nundutan – tikusruk kana durukan – mesat gobang kabuyutan – trang-trang kolentrang – si naga nyingkah sing anggang – jeung gancang ngutahkeun bulan – caang bulan di buruan – trang-trang kolentrang – si nini urang tulungan – imahna teh kapoekan – bulan ngempur ngabrak siang.” (*lagu anonim)

Larasati tersenyum senang menatap neneknya yang bernyanyi. Wajah cemberutnya pun berganti riang.

“Neng, dah malem. Bobo yuk!”

“Iya Nek,” kata Larasati. “Nek, Laras minta maaf kalau dari mulai datang selalu cemberut sama nenek. Laras senang liburan di sini. Dapat dongeng dari Nenek.” Bisik Larasati senang. “Laras, nggak akan marah lagi sama Nenek, sama Bunda juga.”

“Syukurlah… Nenek bahagia, kalau Laras juga bahagia. Bunda juga sama dengan Nenek, akan selalu membahagiakanmu.”

“Iya Nek,” kata Larasati tersenyum. “Laras boleh di sini dulu ya Nek, sebennntar aja…”

“Baiklah, Nenek ijinkan. Cepet masuk ya… “

“Iya Nek…” Larasati melambaikan tangannya ke arah Nenek Ida yang beranjak masuk rumah.

Larasati menatap bulan. Sambil tersenyum menyanyikan lagu yang tadi dinyanyikan oleh neneknya.

Sepoi angin malam melepaskan semburat cahaya rembulan, yang membiaskan bayangan hitam dalam wujud kucing dan seorang nenek yang sedang menenun. Samar dalam bayangan, tapi nyata dalam pandangan. Nenek itu melepas tenunannya, berdiri memandang bumi yang terselaputi debu-debu polusi.

Larasati menajamkan pandangan ke bulan. Bayangan hitam itu pun nampak menjadi kenyataan. Bintang-bintang yang betebaran berkelompok, lalu berderet membentuk titian tangga. Tangga yang berliku melampaui tingginya pepohonan dan tegaknya pegunungan. Titian bintang itu mendekat dan berada di hadapan Larasati yang masih lirih menyanyikan bulan.

Seorang perempuan tua yang masih cantik jelita turun menapaki setiap anak tangga bintang. Kedua tangannya memegang kain tenunan yang berlipat rapi. Di belakangnya kucing berwarna tiga berloncat-loncat riang.

“Terima kasih Nak sudah mengingat Nini. Ini, Nini memberimu hadiah. Kain tenunan yang selama ini Nini tenun. Jadilah anak yang baik, berbakti pada orang dan negeri. Jagalah bumi ini agar Nini masih bisa menenun kembali,” kata Nini Anteh sambil tersenyum. Ia pun berlalu dengan melayang bersampirkan selendang putih.

Larasati menerima kain tenunan, menatap kagum pada Nini Anteh. “Nek, akan kulaksanakan pesanmu. Mulai sekarang, aku bercita-cita ingin menjadi astronot, untuk menemuimu kembali di bulan.”

 
Leave a comment

Posted by pada September 30, 2011 in Cerpen Anak

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 86 pengikut lainnya.