Kematian adalah hal yang pasti. Tak ada satu makhluk pun yang dapat menghindarinya. Pagi ini tidak seperti biasanya Laura ingin jalan pagi. Sebelum berangkat tidur pamitan jalan pagi bersama teman-temannya. Selepas shalat Shubuh berjamaah, Luara langsung mengganti baju dengan pakaian olah raga dan bersepatu rapi. “Lauraaaaaa…” terdengar suara teman-teman Laura memanggilnya dari luar.
“Iyaaaaa…. bentar yaaaaaaa,” jawab Laura.
“Hush… jangan teriak-teriak, masih pagi.” Tegur Bunda yang sedang menyiapkan pisang goreng dan teh manis. “Iya Bundaaaaa… Laura jalan dulu ya…” kata Laura sambil membetulkan tali sepatunya. “Ayah, Laura pergi ya…,” Laura mencium tangan ayahnya yang sedang membaca buku.
“Hati-hati di jalan Nak,” kata ayah.
“Siiiiiip Yah…”
“Pulangnya cepat ya jangan terlalu siang, nanti kesiangan masuk sekolahnya,” kata Bunda Laura sambil menutup pintu gerbang.
“Iya Buuun,” teriak Laura. Laura dan Rianti pun pergi jalan-jalan pagi.
Acara jalan-jalan pagi memang tidak biasa Laurai dan teman-temannya lakukan. Tapi ketika guru olah raganya menjelaskan sehatnya bangun dan jalan pagi, Laura dan teman-temannya pun janjian untuk jalan-jalan pagi setelah shalat shubuh.
Brakkkk… terdengar pintu gerbang terbuka keras. “Bundaaaaaa…” terdengar teriakan Laura.
“Ada apa Laura…,” sahut Bunda sambil tergopoh-gopoh keluar rumah menghampiri Laura.
Laura pulang dalam keadaan menangis di antara teman-temannya.
“Bunda, Laura nangis karena lihat kucing dan burung merpati mati di jalan,” kata Rianti, teman Laura.
“Mati kenapa?” Tanya Bunda penasaran.
“Nggak tahu, pas kita lagi jalan-jalan lihat kucing mati, terus di jalan C lihat burung merpati mati.”
“Ooooo…” jawab Bunda. “Terus, kenapa Laura nangis?” Tanya Bunda.
“Nggak tahu Bun, pas lihat burung merpati mati Laura terus nangis. Kita juga bingung, iya kan Nid,” kata Rianti meminta pembenaran dari Nida.
“Iya Bun, kita nggak tahu,” kata Nida membenarkan.
“Ya udah, kalian pulang aja. Dah siang, kalian siap-siap mau sekolah kan?”
“Iya Bun…” kata teman-teman Laura serempak. “Laura, kami pergi dulu ya… sampai ketemu di sekolah.”
Setelah teman-teman Laura pergi, Bunda mengajak Laura masuk. Bunda mendudukkan Laura di kursi, kemudian Bunda membawa pisang goreng dan teh manis anget ke Laura.
“Minum dulu Nak.”
Laura langsung minum dan makan goreng pisang.
“Kenapa menangis Nak?” tanya Bunda setelah teh manis dan goreng pisangnya habis.
“Kasihan mereka Bun… Laura jadi ingat nenek yang sudah meninggal. Kucing dan burung merpati meninggalnya di jalan Bun, ada darahnya di leher. Mereka sendirian. Kasihan Bun…” kata Laura.
“Kita kubur aja mereka.”
“Betul Bun?”
“Iya,” kata Bunda sambil mengangguk. “Ayo, kita berangkat sekarang mumpung masih pagi,” ajak Bunda.
“Ayah mana Bun?”
“Ayah sudah berangkat tadi waktu Laura jalan-jalan. Kita berdua aja ya yang menguburkannya.” Kata Bunda.
Bunda dan Laura naik mobil dan membawa baskom untuk kucing dan burung merpati. Dengan memakai sarung tangan, Bunda memindahkan kucing dan merpati ke baskom, lalu menguburkannya di kebun belakang rumah mereka.
“Mandilah Laura, dah siang. Nanti kesiangan masuk sekolah.”
“Baik Bun… Makasih ya dah menguburkan mereka.”
“Tidak apa-apa Nak. Setiap makhluk itu pasti meninggal. Kita jangan takut dengan kematian, yang penting kita selalu menjalankan kebaikan dan meninggal dalam keadaan baik atau husnul khatimah,” kata Bunda sambil tersenyum. “Besok masih mau jalan pagi lagi?”
“Tentu dong Bunda… Jalan pagi kan sehat kata Pak Guru,” jawab Laura sambil tersenyum.
“Bagus… Bunda siapkan sarapan dan bekal makan siang dulu ya.”