<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Motekar's Weblog</title>
	<atom:link href="http://motekar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://motekar.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Jan 2012 13:54:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='motekar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Motekar's Weblog</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://motekar.wordpress.com/osd.xml" title="Motekar&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://motekar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>[J50K] Mendadak Dilamar</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2012/01/08/j50k-mendadak-dilamar/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2012/01/08/j50k-mendadak-dilamar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 13:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Rinai hujan masih turun deras ketika tamu keluarga pelamar pria datang. Ida duduk gelisah di kamarnya yang mungil, hatinya berdebar menunggu panggilan keluar dari neneknya. Tak ada bayangan sebelumnya, dia akan mendapat pinangan cepat selepas lulus sekolah. Baru dua hari yang lalu dia merayakan kelulusan SMA bersama teman-temannya. Dalam perayaan itu masing-masing siswa mengungkapkan cita-cita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=94&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rinai hujan masih turun deras ketika tamu keluarga pelamar pria datang. Ida duduk gelisah di kamarnya yang mungil, hatinya berdebar menunggu panggilan keluar dari neneknya.</p>
<p>Tak ada bayangan sebelumnya, dia akan mendapat pinangan cepat selepas lulus sekolah. Baru dua hari yang lalu dia merayakan kelulusan SMA bersama teman-temannya. Dalam perayaan itu masing-masing siswa mengungkapkan cita-cita mereka selepas sekolah. Rata-rata ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, walau nilai Ida bagus di sekolah, Ida hanya bercita-cita untuk bekerja. Membiayai dirinya dan nenek tercinta, yang telah mengasuhnya sejak kecil. Tina, salah satu juara kelas menawarkan Tina pekerjaan di toko saudaranya di daerah kota. Tina sendiri akan kuliah di ibu kota. Mendapat tawaran itu Ida langsung menyanggupinya. Selain ia kenal dengan saudara Tina, ia juga masih bisa tinggal sama neneknya. Rencananya, hari ini Ida akan ke kota, mengajukan lamaran dan bertemu saudara Tina. Namun, semalam nenek menyuruhnya tinggal di rumah karena akan kedatangan tamu. Yah, dan pagi harinya nenek menceritakan bahwa tamu yang dating itu adalah yang akan melamarnya.</p>
<p>Antara bingung dan gelisah, Ida hanya terdiam mendapat kabar tersebut. Nenek sangat antusias ketika bercerita tentang calon suaminya. Laki-laki itu adalah anak Pak Wiguna, juragan padi dari desa tetangga. Dia bernama Arya, sudah lulus kuliah, dan sekarang menjadi manajer penerbitan buku. Selain kaya dan pintar, laki-laki ini juga terkenal baik dan soleh. Alangkah sempurnanya laki-laki yang nenek ceritakan itu, renung Ida.</p>
<p>Ida tidak memiliki cita-cita yang muluk. Ia hanya ingin membahagiakan neneknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kedua orangtuanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas tatkala ia masih berusia tujuh tahun. Bis yang ditumpangi kedua orang tuanya tergelincir masuk jurang, saat mereka mudik lebaran. Tak banyak yang diingat oleh Ida tentang orang tuanya. Sejak umur tiga tahun, Ida sudah tinggal dengan neneknya. Orang tuanya merantau ke kota Bandung untuk berjualan.</p>
<p>Meskipun nenek Ida memiliki sawah dan kebun-walaupun hanya beberapa meter, tetapi Bapak Ida merasa tidak berbakat dalam bertani, maka ia pergi ke kota untuk berdagang. Di sana ia bertemu dengan Ibu Ida, karyawan pabrik tekstil. Itu yang nenek Ida ceritakan kepadanya. Masih terbayang dalam ingatan Ida, kegembiraan menjelang lebaran tahun itu hilang, seiring dengan dengan ditelan lebaran tahun itu ia lewati dengan kesedihan dan duka cita. Orang tuanya yang merantau ke kota Bandung untuk berjualan Somay, kegembiraan menjelang lebaran yang selalu dinantinya hilang tatkala kedua orang tuanya yang selalu pulang ketika lebaran, meninggal. Bis yang dinaiki kedua orang tuanya masuk jurang.</p>
<p>Nenek, adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Maka, ketika nenek bicara soal lamaran, Ida hanya diam, mematuhi apa yang diinginkan neneknya.</p>
<p>“Ida… keluar Nak, keluarga Nak Arya ingin bertemu denganmu,” terdengar suara Nenek memanggil.</p>
<p>“Iya Nek…” Ida membuka pintu kamar. Dan langsung ia melihat keluarga calon suaminya, yang ternyata mereka datang cukup banyak.</p>
<p>Dengan tersipu malu Ida duduk di sebelah neneknya. Tidak hanya orang-orang yang belum Ida kenal yang ada, Pak RT, dan Pak Haji Jaka, yang biasa imam masjid juga hadir.</p>
<p>“Nak, keluarga Pak Wiguna ingin mengajukan lamaran kepadamu untuk putranya, Nak Arya. Ini fotonya,” Pak Haji menyodorkan selembar foto ke Ida. Ida menerima foto tersebut. “Nak Arya lagi ada rapat mendadak yang tidak bias ia tinggal, padahal dia sudah ada di sini dari kemarin.”</p>
<p>Ida memandang foto yang ada di tangannya. Laki-laki di foto itu menarik, dan cukup tampan. Tapi Ida tidak bias memastikannya, bagaimana pun itu hanyalah foto, yang terkadang tidak sama dengan wujud fisiknya.</p>
<p>“Gimana, apakah Neng Ida mau menerimanya?” Pak Haji Jaka kembali bertanya.</p>
<p>Ida hanya diam menunduk.</p>
<p>“Diam itu biasanya setuju Pak Haji,” ujar Pak RT. “Gimana Neng Ida, betul nggak kata Bapak,” kata Pak RT sambil tersenyum.</p>
<p>Ida semakin diam, namun terlihat wajahnya tersipu malu. Ida pun mengangguk tanda setuju.</p>
<p>“Alhamdulillah, Neng Ida setuju,” kata Pak Haji Jaka.</p>
<p>“Saya sangat senang Neng Ida menerimanya. Ini ada hadiah dari keluarga kami sebagai tanda jadi bahwa Neng Ida calon istri anak kami,” kata Pak Wiguna sambil memberikan kotak perhiasan. Ida hanya diam. “Mohon cincinnya tunangannya Neng Ida pake, dan Arya juga member hape buat komunikasi Neng Ida dan Arya.” Istri Pak Wiguna menyerahkan bungkusan hape. “Di dalamnya juga sudah ada kartu perdananya, sengaja Arya yang memilih kartunya.”</p>
<p>“Terima kasih,” kata Ida.</p>
<p>Proses pertunangan pun terus berlanjut, tapi Ida tak menyadarinya. Dia hanya menatap foto calon suami yang belum ia kenal. “Sebegitu pentingnya rapat itu, sampai dia tidak menghadiri lamarannya sendiri,” lirih Ida dalam hati.</p>
<p>Rumah kembali sepi, hanya suara air pancuran yang kembali terdengar. Semua tamu sudah pulang, termasuk Pak Haji Jaka dan Pak RT. Nenek sudah masuk kamar, ingin istirahat katanya, setelah seharian menyiapkan acara pertunangan.</p>
<p>Tok…tok…tok… terdengar suara pintu yang diketuk. Ida yang duduk menatap foto ke depan dan membuka pintu, “Tirta?”</p>
<p>“Ida, benarkah kamu sudah tunangan?”</p>
<p>“Ta…tau dari mana?” Tanya Ida gugup.</p>
<p>“Tadi aku beli rokok ke warung Pak Haji Jaka, katanya dia habis jadi saksi kamu tunangan?” kata Tirta mnggebu-gebu. “Da, kenapa kamu begitu? Kamu anggap apa hubungan kita selama ini? Tega-teganya kamu bertunangan dengan laki-laki lain?”</p>
<p>Ida hanya diam.</p>
<p>“Kenapa diam saja Da?” bentak Tirta.</p>
<p>“Maaf…”</p>
<p>“Maaf? Itu saja? Ooooh… dasar perempuan matre,” bentak Tirta sambil pergi berlalu.</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/j50k/'>J50K</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=94&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2012/01/08/j50k-mendadak-dilamar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Kematian</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/11/04/dua-kematian/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/11/04/dua-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 05:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Kematian adalah hal yang pasti. Tak ada satu makhluk pun yang dapat menghindarinya. Pagi ini tidak seperti biasanya Laura ingin jalan pagi. Sebelum berangkat tidur pamitan jalan pagi bersama teman-temannya. Selepas shalat Shubuh berjamaah, Luara langsung mengganti baju dengan pakaian olah raga dan bersepatu rapi. &#8220;Lauraaaaaa&#8230;&#8221; terdengar suara teman-teman Laura memanggilnya dari luar. &#8220;Iyaaaaa&#8230;. bentar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=86&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kematian adalah hal yang pasti. Tak ada satu makhluk pun yang dapat menghindarinya. Pagi ini tidak seperti biasanya Laura ingin jalan pagi. Sebelum berangkat tidur pamitan jalan pagi bersama teman-temannya. Selepas shalat Shubuh berjamaah, Luara langsung mengganti baju dengan pakaian olah raga dan bersepatu rapi. &#8220;Lauraaaaaa&#8230;&#8221; terdengar suara teman-teman Laura memanggilnya dari luar.</p>
<p>&#8220;Iyaaaaa&#8230;. bentar yaaaaaaa,&#8221; jawab Laura.</p>
<p>&#8220;Hush&#8230; jangan teriak-teriak, masih pagi.&#8221; Tegur Bunda yang sedang menyiapkan pisang goreng dan teh manis. &#8220;Iya Bundaaaaa&#8230; Laura jalan dulu ya&#8230;&#8221; kata Laura sambil membetulkan tali sepatunya. &#8220;Ayah, Laura pergi ya&#8230;,&#8221; Laura mencium tangan ayahnya yang sedang membaca buku.</p>
<p>&#8220;Hati-hati di jalan Nak,&#8221; kata ayah.</p>
<p>&#8220;Siiiiiip Yah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Pulangnya cepat ya jangan terlalu siang, nanti kesiangan masuk sekolahnya,&#8221; kata Bunda Laura sambil menutup pintu gerbang.</p>
<p>&#8220;Iya Buuun,&#8221; teriak Laura. Laura dan Rianti pun pergi jalan-jalan pagi.</p>
<p>Acara jalan-jalan pagi memang tidak biasa Laurai dan teman-temannya lakukan. Tapi ketika guru olah raganya menjelaskan sehatnya bangun dan jalan pagi, Laura dan teman-temannya pun janjian untuk jalan-jalan pagi setelah shalat shubuh.</p>
<p>Brakkkk&#8230; terdengar pintu gerbang terbuka keras. &#8220;Bundaaaaaa&#8230;&#8221; terdengar teriakan Laura.</p>
<p>&#8220;Ada apa Laura&#8230;,&#8221; sahut Bunda sambil tergopoh-gopoh keluar rumah menghampiri Laura.</p>
<p>Laura pulang dalam keadaan menangis di antara teman-temannya.</p>
<p>&#8220;Bunda, Laura nangis karena lihat kucing dan burung merpati mati di jalan,&#8221; kata Rianti, teman Laura.</p>
<p>&#8220;Mati kenapa?&#8221; Tanya Bunda penasaran.</p>
<p>&#8220;Nggak tahu, pas kita lagi jalan-jalan lihat kucing mati, terus di jalan C lihat burung merpati mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooooo&#8230;&#8221; jawab Bunda. &#8220;Terus, kenapa Laura nangis?&#8221; Tanya Bunda.</p>
<p>&#8220;Nggak tahu Bun, pas lihat burung merpati mati Laura terus nangis. Kita juga bingung, iya kan Nid,&#8221; kata Rianti meminta pembenaran dari Nida.</p>
<p>&#8220;Iya Bun, kita nggak tahu,&#8221; kata Nida membenarkan.</p>
<p>&#8220;Ya udah, kalian pulang aja. Dah siang, kalian siap-siap mau sekolah kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Bun&#8230;&#8221; kata teman-teman Laura serempak. &#8220;Laura, kami pergi dulu ya&#8230; sampai ketemu di sekolah.&#8221;</p>
<p>Setelah teman-teman Laura pergi, Bunda mengajak Laura masuk. Bunda mendudukkan Laura di kursi, kemudian Bunda membawa pisang goreng dan teh manis anget ke Laura.</p>
<p>&#8220;Minum dulu Nak.&#8221;</p>
<p>Laura langsung minum dan makan goreng pisang.</p>
<p>&#8220;Kenapa menangis Nak?&#8221; tanya Bunda setelah teh manis dan goreng pisangnya habis.</p>
<p>&#8220;Kasihan mereka Bun&#8230; Laura jadi ingat nenek yang sudah meninggal. Kucing dan burung merpati meninggalnya di jalan Bun, ada darahnya di leher. Mereka sendirian. Kasihan Bun&#8230;&#8221; kata Laura.</p>
<p>&#8220;Kita kubur aja mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul Bun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; kata Bunda sambil mengangguk. &#8220;Ayo, kita berangkat sekarang mumpung masih pagi,&#8221; ajak Bunda.</p>
<p>&#8220;Ayah mana Bun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayah sudah berangkat tadi waktu Laura jalan-jalan. Kita berdua aja ya yang menguburkannya.&#8221; Kata Bunda.</p>
<p>Bunda dan Laura naik mobil dan membawa baskom untuk kucing dan burung merpati. Dengan memakai sarung tangan, Bunda memindahkan kucing dan merpati ke baskom, lalu menguburkannya di kebun belakang rumah mereka.</p>
<p>&#8220;Mandilah Laura, dah siang. Nanti kesiangan masuk sekolah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik Bun&#8230; Makasih ya dah menguburkan mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa Nak. Setiap makhluk itu pasti meninggal. Kita jangan takut dengan kematian, yang penting kita selalu menjalankan kebaikan dan meninggal dalam keadaan baik atau husnul khatimah,&#8221; kata Bunda sambil tersenyum. &#8220;Besok masih mau jalan pagi lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu dong Bunda&#8230; Jalan pagi kan sehat kata Pak Guru,&#8221; jawab Laura sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Bagus&#8230; Bunda siapkan sarapan dan bekal makan siang dulu ya.&#8221;</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/cerpen-anak/'>Cerpen Anak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=86&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/11/04/dua-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Kau Pergi</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/10/03/ketika-kau-pergi/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/10/03/ketika-kau-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 09:40:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kau pergi Separuh nafasku hilang Benarkah itu? Orang-orang yang ditinggal oleh orang yang selama ini memerhatikannya menjadi gila karena merindu perhatian yang telah mati Dia tersenyum padahal hatinya menoreh luka Raganya berjalan tapi jiwanya terhempas ke bayang-bayang masa silam ketika kerinduan yang memuncak jendela-jendela rumah maya pun dibuka tidak ada sapaan dan candaan bahkan…… [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=80&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Ketika kau pergi</p>
<p>Separuh nafasku hilang</p>
<p>Benarkah itu?</p>
<p>Orang-orang yang ditinggal oleh orang yang selama ini memerhatikannya</p>
<p>menjadi gila karena merindu perhatian yang telah mati</p>
<p>Dia tersenyum padahal hatinya menoreh luka</p>
<p>Raganya berjalan tapi jiwanya terhempas ke bayang-bayang masa silam</p>
<p>ketika kerinduan yang memuncak</p>
<p>jendela-jendela rumah maya pun dibuka</p>
<p>tidak ada sapaan dan candaan</p>
<p>bahkan…… tidak ada sebaris pun yang menjelaskan identitas yang bernama</p>
<p>Aku manarik nafas panjang</p>
<p>Menatap kenyataan bahwa aku telah bermain-main dengan kebodohan</p>
<p>Bercanda dengan dalih pertemanan semu yang hanya fatamorgana maya</p>
<p>*Jakarta, 1 Agustus 2010</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/puisi/'>Puisi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=80&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/10/03/ketika-kau-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Tidak Tahu</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/10/03/aku-tidak-tahu/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/10/03/aku-tidak-tahu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 09:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Aku tidak tahu…. Apakah ini cinta…. Ataukah sekedar suka… Ataukah ini hanya keegoisan diri… Aku Tidak tahu… Kenapa aku harus terus memikirkannya padahal dia sudah pergi untuk membina keluarganya Kenapa aku harus menangis setiap teringat tutur katanya padahal itu semua hanya kata-kata semu Kenapa aku harus mengingatnya padahal dia pergi tanpa salam dan kata Kenapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=75&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tidak tahu…. Apakah ini cinta…. Ataukah sekedar suka… Ataukah ini hanya keegoisan diri…</p>
<p>Aku Tidak tahu… Kenapa aku harus terus memikirkannya padahal dia sudah pergi untuk membina keluarganya Kenapa aku harus menangis setiap teringat tutur katanya padahal itu semua hanya kata-kata semu</p>
<p>Kenapa aku harus mengingatnya padahal dia pergi tanpa salam dan kata</p>
<p>Kenapa aku masih merasa ia menyayangiku padahal kata yang sering ia keluarkan adalah kata-kata pedas menusuk kalbu</p>
<p>Kenapa aku masih merindukannya padahal setiap komunikasi yang ada hanyalah bahasa kaku Aku tidak tahu…</p>
<p>Kenapa hatiku tidak bisa membebaskannya membiarkannya pergi dengan segala duka nestapa ini ribuan doa aku panjatkan untuk bisa membiarkannya pergi sepertinya tidak berarti karena dalam pelupuk mataku selalu ada senyuman dan canda tawamu</p>
<p>Aku tidak tahu…</p>
<p>Jakarta, 29 Juli 2010</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/puisi/'>Puisi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=75&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/10/03/aku-tidak-tahu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nini Anteh dalam Wajah Rembulan</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/09/30/wajah-rembulan/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/09/30/wajah-rembulan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 09:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Malam gelap. Langit berwajah abu-abu, berhiaskan bintang-bintang yang berkerlap kerlip . Rembulan bersinar terang, bulat indah menyala. Cahayanya merah kekuning-kuningan bagai bulatan emas logam yang menggantung indah, seakan ingin dipetik dan disimpan dalam kotak berlapis baja. Larasati duduk di atas di pan di bawah pohon mangga, menatap rembulan sambil mencebik seperti yang menahan nangis dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=69&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam gelap. Langit berwajah abu-abu, berhiaskan bintang-bintang yang berkerlap kerlip . Rembulan bersinar terang, bulat indah menyala. Cahayanya merah kekuning-kuningan bagai bulatan emas logam yang menggantung indah, seakan ingin dipetik dan disimpan dalam kotak berlapis baja.</p>
<p>Larasati duduk di atas di pan di bawah pohon mangga, menatap rembulan sambil mencebik seperti yang menahan nangis dan marah. Sesekali Larasati menatap ke dalam rumah, seperti menunggu seseorang keluar dari rumah sederhana itu. Sesuai dengan harapan Larasati, Nenek Ida keluar sambil berselimutkan baju hangat tebal. Melihat neneknya datang, Larasati memalingkan muka. Larasati marah. Dia ingin ikut Bundanya ke luar negeri. Kebetulan, ayahnya mendapat tugas ke luar negeri, dan hanya bisa ngajak Bundanya. Waktunya bertepatan dengan liburan sekolah Larasati. Bunda dan ayahnya tidak mengijinkan, Larasati malah dibawa ke desa, ke tempat neneknya. Alhasil, dia sekarang berada di kampung yang tidak ada TV, apalagi komputer buat main game.</p>
<p>“Neng Laras, dah malem. Ayo masuk Nak!” Suara lembut Nenek Ida menyapa Larasati. Larasati hanya diam. Dia malah menatap bulan yang semakin bersinar terang.</p>
<p>Nenek Ida menghampiri Larasati dan duduk di samping cucu kesayangannya itu. Nenek Ida pun mengikuti tatapan cucunya, menatap bulan.</p>
<p>“Bulannya indah ya Neng,” tanpa berpaling menatap bulan. “Bulan itu ada penghuninya.”</p>
<p>“Betul Nek?” Larasati mulai berpaling ke arah neneknya.</p>
<p>“Iya, ada Nini Anteh dan kucingnya. Nama kucingnya Candramawat.”</p>
<p>“Kok bisa ada di bulan Nek? Biasanya kan yang ke bulan astronot?” Larasati memperbaiki duduknya.</p>
<p>“Nini Anteh dan kucingnya ini pergi ke bulan sebelum para astronot datang. Lihatlah bulan! Ada bayangan nenek yang sedang nenun, dan di sebelahnya ada kucing kan?” Nenek Ida menunjuk rembulan. Larasati mengangguk.</p>
<p>“Pada jaman dahulu, ada seorang nenek yang biasa nenun kantih. Kantih itu benang tenun. Orang-orang pun memanggilnya Nini Anteh. Nini Anteh ini tidak punya anak, tapi dia punya kucing yang selalu setia menemaninya. Kucing ini berbulu putih, merah dan hitam, dan diberi nama Kucing Candramawat.</p>
<p>“Suatu hari Nini Anteh bilang ke suaminya, Aki Balangantrang, bahwa ia bermimpi pergi ke bulan. Aki Balangantrang pun mengijinkan Nini Anteh pergi ke bulan. Setelah mendapat ijin, Nini  Anteh pun pergi ke bulan bersama kucingnya. Dia juga membawa semua alat tenunnya. Dia terbang dengan selendang putih warisan yang dimiliki secara turun temurun. Sebelum pergi Aki Balangantrang berpesan, ‘Pergilah istriku, semoga kamu bahagia di sana.’</p>
<p>‘Makasih Aki sudah mengijinkan Nini pergi. Nini akan pulang setiap kali tenunan Nini selesai,’ kata Nini Anteh.</p>
<p>Demikianlah, setiap menyelesaikan tenunan, Nini Anteh selalu pulang ke bumi untuk memberikan hasil tenunannya kepada Aki Balangantrang. Aki pun lalu menjualnya. Setelah Aki Balangantrang tiada, Nini Anteh tetap turun memberikan hasil tenunannya kepada orang miskin, yang membutuhkan tenunannya.”</p>
<p>Nenek Ida terdiam. Ia kembali menatap rembulan, yang kali ini terhalang awan tipis malam. “Bunda dan teman-temannya selalu bermain di halaman, terutama bila malam bulan purnama. Bermain kucing-kucingan dan bernyanyi riang.”</p>
<p>“Bernyanyi?” tanya Larasati penasaran.</p>
<p>“Bulan tok, bulan tok ada bulan segede batok.</p>
<p>Bulan pak, bulan pak ada bulan segede opak<br />
Bulan ruk, bulan ruk ada bulan segede jeruk<br />
Bulanting, bulanting ada bulan segede piring.</p>
<p>bulan pir, bulan pir ada bulan segede tampir.” (*lagu anonim)</p>
<p>“Lucu ya Nek, lagunya?”</p>
<p>“Iya,” nenek tersenyum. “Kalau lagi bulan gerhana, ada juga lagunya.”</p>
<p>“Apa?”</p>
<p>“Trang-trang kolentrang &#8211; si londok paeh nundutan &#8211; tikusruk kana durukan &#8211; mesat gobang kabuyutan &#8211; trang-trang kolentrang &#8211; si naga nyingkah sing anggang &#8211; jeung gancang ngutahkeun bulan &#8211; caang bulan di buruan &#8211; trang-trang kolentrang &#8211; si nini urang tulungan &#8211; imahna teh kapoekan &#8211; bulan ngempur ngabrak siang.” (*lagu anonim)</p>
<p>Larasati tersenyum senang menatap neneknya yang bernyanyi. Wajah cemberutnya pun berganti riang.</p>
<p>“Neng, dah malem. Bobo yuk!”</p>
<p>“Iya Nek,” kata Larasati. “Nek, Laras minta maaf kalau dari mulai datang selalu cemberut sama nenek. Laras senang liburan di sini. Dapat dongeng dari Nenek.” Bisik Larasati senang. “Laras, nggak akan marah lagi sama Nenek, sama Bunda juga.”</p>
<p>“Syukurlah&#8230; Nenek bahagia, kalau Laras juga bahagia. Bunda juga sama dengan Nenek, akan selalu membahagiakanmu.”</p>
<p>“Iya Nek,” kata Larasati tersenyum. “Laras boleh di sini dulu ya Nek, sebennntar aja&#8230;”</p>
<p>“Baiklah, Nenek ijinkan. Cepet masuk ya&#8230; “</p>
<p>“Iya Nek&#8230;” Larasati melambaikan tangannya ke arah Nenek Ida yang beranjak masuk rumah.</p>
<p>Larasati menatap bulan. Sambil tersenyum menyanyikan lagu yang tadi dinyanyikan oleh neneknya.</p>
<p>Sepoi angin malam melepaskan semburat cahaya rembulan, yang membiaskan bayangan hitam dalam wujud kucing dan seorang nenek yang sedang menenun. Samar dalam bayangan, tapi nyata dalam pandangan. Nenek itu melepas tenunannya, berdiri memandang bumi yang terselaputi debu-debu polusi.</p>
<p>Larasati menajamkan pandangan ke bulan. Bayangan hitam itu pun nampak menjadi kenyataan. Bintang-bintang yang betebaran berkelompok, lalu berderet membentuk titian tangga. Tangga yang berliku melampaui tingginya pepohonan dan tegaknya pegunungan. Titian bintang itu mendekat dan berada di hadapan Larasati yang masih lirih menyanyikan bulan.</p>
<p>Seorang perempuan tua yang masih cantik jelita turun menapaki setiap anak tangga bintang. Kedua tangannya memegang kain tenunan yang berlipat rapi. Di belakangnya kucing berwarna tiga berloncat-loncat riang.</p>
<p>“Terima kasih Nak sudah mengingat Nini. Ini, Nini memberimu hadiah. Kain tenunan yang selama ini Nini tenun. Jadilah anak yang baik, berbakti pada orang dan negeri. Jagalah bumi ini agar Nini masih bisa menenun kembali,” kata Nini Anteh sambil tersenyum. Ia pun berlalu dengan melayang bersampirkan selendang putih.</p>
<p>Larasati menerima kain tenunan, menatap kagum pada Nini Anteh. “Nek, akan kulaksanakan pesanmu. Mulai sekarang, aku bercita-cita ingin menjadi astronot, untuk menemuimu kembali di bulan.”</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/cerpen-anak/'>Cerpen Anak</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=69&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/09/30/wajah-rembulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etos Kerja: Seorang Muslim adalah Pekerja</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/09/14/etos-kerja-seorang-muslim-adalah-pekerja/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/09/14/etos-kerja-seorang-muslim-adalah-pekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 12:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini, mencari pekerjaan atau membuat peluang pekerjaan tidaklah mudah. Ada banyak tantangan masalah yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan lowongan pekerjaan, tidak adanya lahan pekerjaan, keahlian pekerjaan, atau modal dalam bekerja. Namun, semua itu tidak mesti menjadi kendala dalam bekerja atau mencari rezeki. Dalam Islam, seorang Muslim adalah seorang pekerja. Dalam Kitab Shahih Bukhari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=62&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang ini, mencari pekerjaan atau membuat peluang pekerjaan tidaklah mudah. Ada banyak tantangan masalah yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan lowongan pekerjaan, tidak adanya lahan pekerjaan, keahlian pekerjaan, atau modal dalam bekerja. Namun, semua itu tidak mesti menjadi kendala dalam bekerja atau mencari rezeki.</p>
<p>Dalam Islam, seorang Muslim adalah seorang pekerja. Dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Seseorang yang meraih tali lalu datang dengan seikat kayu bakar di pundaknya kemudian menjualnya, sehingga Allah menutupi wajahnya (memuliakannya). Itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang-orang, di mana mereka itu adakalanya memberi dan tidak.”</p>
<p>Hadis tersebut menunjukkan bahwa, <em>pertama</em>, Allah akan memuliakan orang yang bekerja. Seorang Muslim tidak pantas bermalas-malasan dalam mencari rezeki walaupun itu dengan alasan sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah Swt. Tidak pantas pula mengharap sedekah dari orang lain padahal ia memiliki kemampuan bekerja untuk menghidupi dirinya, memenuhi kebutuhan keluarganya, atau orang-orang yang menjadi tanggungannya. Dalam kitab Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidak halal sedekah kepada orang kaya dan orang yang memiliki kemampuan yang stabil.”</p>
<p><em>Kedua</em>, Kerendahan dan kehinaan bagi orang yang meminta-minta kepada orang lain. Seorang Muslim tidak pantas meminta-minta kepada orang lain. Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang meminta sesuatu bukan kebutuhannya, bagaikan orang yang memungut bara api.”</p>
<p>Adapun dalam riwayat Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak harta (memperkaya dirinya), maka pada hari kiamat harta tersebut akan mencakar wajahnya dan menjadi batu panas dari neraka jahannam untuk dimakannya. Maka, siapa yang ingin menguranginya, silakan lakukan, dan yang ingin memperbanyaknya, silakan lakukan.”</p>
<p>Dalam riwayat Mutafaq alaih juga disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah orang yang selalu meminta-minta itu kecuali ia akan menemui Allah dengan wajah tanpa daging.”</p>
<p>Maka, seorang Muslim harus bekerja apa saja asalkan halal. Semangat bekerja juga dapat kita lihat dari para nabi, seperti: Nabi Daud yang bekerja sebagai pembuat baju besi sebagai tameng dalam peperangan, ini tercantum dalam surah Al-Anbiya ayat 80. Begitu pula dengan Nabi Yusuf yang bekerja menjadi bendahara kerajaan Fir’aun, ini tercantum dalam surah Yusuf ayat 55. Bahkan, Nabi Muhammad Saw adalah seorang penggembala dan pedagang yang terkenal dengan sifat amanah dan kejujurannya.</p>
<p>Etos kerja seorang Muslim dapat dilihat dari hadis riwayat Thabrani yang menyebutkan bahwa tatkala Rasulullah Saw duduk bersama para sahabatnya, lewatlah seorang lelaki dengan penuh semangat. Para sahabat kemudian berkata, “Alangkah baik jika semangatnya itu dimanfaatkan di jalan Allah.”</p>
<p>Mendengar perkataan sahabat tersebut, Rasulullah Saw mengomentarinya dengan bersabda, “Jika dia keluar untuk (keperluan) anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia keluar untuk kedua orangtuanya yang sudah tua renta, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia keluar (bekerja) karena ingin menjaga kesucian dirinya (dari meminta-minta), maka dia juga berada di jalan Allah. Dan jika dia keluar untuk pamer dan gagah-gagahan maka dia di jalan setan.”</p>
<p>Dengan demikian, marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh, serta berusaha menggapai pintu-pintu rezeki yang telah disediakan oleh Allah Swt berdasarkan ketentuan dan syariat-Nya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=62&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/09/14/etos-kerja-seorang-muslim-adalah-pekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersuci Ketika Sakit</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/06/03/bersuci-ketika-sakit/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/06/03/bersuci-ketika-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 03:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[suci]]></category>
		<category><![CDATA[wudu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Ketika sakit, kesucian dalam beribadah harus tetap dilakukan. Meskipun penyakit yang diderita tidak membolehkan badan terkena air, tetapi bila hendak beribadah harus dalam keadaan suci. Lalu, bagaimana orang yang dalam keadaan sakit bisa bersuci? Dalam keadaan sakit memang tidak mudah untuk bersuci, apalagi kalau sakit parah. Tetapi, kewajiban shalat tidak bisa ditinggalkan, termasuk bersuci yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=60&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika sakit, kesucian dalam beribadah harus tetap dilakukan. Meskipun penyakit yang diderita tidak membolehkan badan terkena air, tetapi bila hendak beribadah harus dalam keadaan suci. Lalu, bagaimana orang yang dalam keadaan sakit bisa bersuci?</p>
<p>Dalam keadaan sakit memang tidak mudah untuk bersuci, apalagi kalau sakit parah. Tetapi, kewajiban shalat tidak bisa ditinggalkan, termasuk bersuci yang menjadi syarat sah shalat. Cara bersuci dari hadas adalah dengan berwudhu.</p>
<p>Allah Swt berfirman, “<em>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki</em>.” <strong>(QS. Al</strong><strong>-</strong><strong>Maidah [5]: 6)</strong></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda, <strong>“</strong><em>Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian jika berhadas sampai dia berwudhu</em>.” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Tata cara melakukan wudhu, yaitu niat, membasuh muka dengan air, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, dan tertib serta berurutan.</p>
<p>Namun, jika dalam keadaan safar atau sakit yang tidak membolehkan terkena air, maka cara membersihkan hadas dengan tayamum.</p>
<p>Tayamum ini cara bersuci mengganti wudhu dan mandi wajib jika tidak memungkinkan menggunakan air, baik untuk shalat maupun thawaf.</p>
<p>Allah Swt berfirman, <em>“Dan jika kamu sakit, sedang dalam musafir, datang dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). Sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”</em> <strong>(QS. An</strong><strong>-</strong><strong>Nisa</strong><strong> [4]: 43) </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tayamum dilakukan dengan menggunakan debu yang suci dan segala sesuatu yang sejenis dengannya, seperti pasir, kerikil, dan kapur. Allah Swt berfirman, <em>“Maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik (suci).”</em> <strong>(QS. An-Nisa [4]: 43)</strong></p>
<p>Cara melakukan tayamum adalah menepukkan kedua telapak tangan ke dinding atau permukaan sesuatu yang berdebu, lalu meniup dan mengusap kedua telapak tangannya ke wajah kemudian ke telapak tangan kiri sampai pergelangan dan sebaliknya.</p>
<p>Jabir r.a meriwayatkan bahwa suatu ketika ia dan sahabat lainnya bepergian. Di perjalanan, salah seorang di antara kami tertimpa batu hingga kepalanya luka. Orang tersebut mimpi basah, lalu ia menceritakan hal tersebut dan bertanya, “Apakah saya mendapatkan keringanan untuk tayamum?”</p>
<p>Salah seorang di antara kami pun menjawab, “Tidak ada keringanan bagimu, karena kamu masih bisa menggunakan air.”</p>
<p>Setelah mendengar jawaban temannya, sahabat yang terluka pun mandi. Akan tetapi, tak lama setelah mandi ia meninggal dunia. Ketika bertemu Rasulullah Saw, kami menceritakan peristiwa tersebut kepadanya. Rasulullah Saw bersabda, “<em>Kalian telah membunuh laki-laki itu, maka Allah pun membunuh kalian. Mengapa kalian tidak bertanya jika tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya. Padahal, orang yang terluka itu bisa dengan cara tayamum. Ia bisa mengeringkan darahnya atau membalut lukanya dengan kain, kemudian mengusap bagian atasnya. Setelah itu lalu membasuh seluruh tubuhnya (mandi)</em>.” <strong>(HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ad</strong><strong>-</strong><strong>Daraqutni)</strong></p>
<p>Wudhu atau tayamum merupakan syarat sah shalat. Bagi orang yang dalam keadaan sakit, bisa bersuci dengan wudhu jika penyakit yang diderita masih memungkinkan terkena air, tetapi jika penyakitnya tidak boleh terkena air maka bisa dengan cara tayamum. Bagaimanapun, agama itu mudah dan tidak menyulitkan. Siapa yang memberatkan dirinya, maka itu sama dengan menyulitkan diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta, 9 Agustus 2010</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a> Tagged: <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/sakit/'>sakit</a>, <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/suci/'>suci</a>, <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/wudu/'>wudu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=60&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/06/03/bersuci-ketika-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Tidak Menyalatkan Jenazah Koruptor</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/fatwa-tidak-menyalatkan-jenazah-koruptor/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/fatwa-tidak-menyalatkan-jenazah-koruptor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 13:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) akan mengeluarkan fatwa agar tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat tidak menyalatkan jenazah pelaku dosa besar, di antara yang termasuk pelaku dosa besar itu adalah koruptor. Berita lengkapnya bisa dilihat di http://www.pikiran-rakyat.com/node/119477. Di sini, saya hanya mengambil dosa besar pelaku korupsi, karena melihat fenomena korupsi yang semakin merajalela di negeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=55&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) akan mengeluarkan fatwa agar tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat tidak menyalatkan jenazah pelaku dosa besar, di antara yang termasuk pelaku dosa besar itu adalah koruptor. Berita lengkapnya bisa dilihat di http://www.pikiran-rakyat.com/node/119477.</p>
<p>Di sini, saya hanya mengambil dosa besar pelaku korupsi, karena melihat fenomena korupsi yang semakin merajalela di negeri tercinta ini. Penyakit korupsi ini menyerang hampir semua lini pelayanan publik, dari tingkat RT sampai pusat pemerintahan. Bahkan, wakil rakyat yang seharusnya menjadi tangan kanan rakyat, malah menggasab hak rakyat.</p>
<p>Siapa sih yang tidak tergoda dengan uang dan harta kekayaan, sehingga jabatan yang diraih pun menjadi taruhan untuk uang triliyunan. Korupsi yang terus menjadi ajang perbincangan, tanpa ada realisasi hukum dalam menyelesaikan kasus. Sebagai rakyat yang menyaksikan, sungguh sangat menyesakkan dan geregetan dengan pelaku korupsi di pelayanan publik dan penegak hukum.</p>
<p>Fatwa tersebut bisa menjadi sanksi moral bagi koruptor. Rasulullah pernah tidak mau menyalati seseorang yang ikut perang Khaibar. Dalam Kitab Sunan Abu Daud disebutkan bahwa Zaid bin Khalid al-Juhani meriwayatkan bahwa ada seseorang yang ikut perang Khaibar meninggal pada saat perang. Hal ini dilaporkan kepada Rasulullah Saw. Lalu beliau bersabda, “Salatkanlah sahabatmu itu, sedangkan aku sendiri tidak ikut menyalatinya.” Berubahlah wajah orang-orang atas pernyataan Nabi itu. Kemudian beliau bersabda, “Sungguh sahabatmu itu telah berlaku ghulul (korupsi) di jalan Allah.” Para sahabat pun memeriksa barangnya, mereka menemukan perhiasan milik orang Yahudi yang nilainya tidak mencapai dua dirham. (HR. Abu Daud)</p>
<p>Dengan demikian, fatwa ini bukan melarang kaum muslim menyalati seorang muslim yang koruptor, karena fatwa ini nantinya ditujukan kepada pemuka agama dan masyarakat agar tidak menyalati koruptor. Bagaimanapun, menyalati jenazah adalah kewajiban kaum muslim, hukumnya fardhu kifayah, maka jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, semua kaum muslimin berdosa.</p>
<p>Namun, melihat fenomena korupsi sekarang ini yang tidak hanya terjadi pada pejabat pemerintahan, tetapi tokoh masyarakat dan tokoh agama pun tak jarang yang terjerat korupsi. Lalu, bagaimana untuk mengetahui seseorang itu benar-benar koruptor atau bukan?</p>
<p>Wallahu’alam bishshawab</p>
<p>JJJakarta, 12 Agustus 2010</p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/fiqih/'>Fiqih</a> Tagged: <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/korupsi/'>korupsi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=55&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/fatwa-tidak-menyalatkan-jenazah-koruptor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/waktu/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 08:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[gerimis]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini sama seperti kemarin, mungkin juga akan sama dengan hari esok. Padahal waktu terus melaju, tidak berhenti hanya sekedar untuk beristirahat dari lelahnya mengelilingi bumi. Aku seperti dalam akuarium yang hanya bisa bergerak tetapi tidak bisa pergi. Terkadang ada kenyamanan dalam keterbatasan, namun tak jarang diri ini mengeluh dalam keterputusasaan. Meskipun aku tidak bergerak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=47&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Hari ini sama seperti kemarin, mungkin juga akan sama dengan hari esok.<br />
Padahal waktu terus melaju, tidak berhenti hanya sekedar untuk beristirahat dari lelahnya mengelilingi bumi.</p>
<p>Aku seperti dalam akuarium yang hanya bisa bergerak tetapi tidak bisa pergi. Terkadang ada kenyamanan dalam keterbatasan, namun tak jarang diri ini mengeluh dalam keterputusasaan. Meskipun aku tidak bergerak yang hanya menatap sekitar, tetapi aku merasa lelah.</p>
<p>Mungkin lebih lelah dari sekedar berlari mengejar ambisi, atau melebihi orang yang berjalan melintasi berbagai peradaban dan kebudayaan. Bukan sedih atau senang, tetapi aku berjalan tanpa tahu rasa dari keduanya.</p>
<p>Seiring waktu yang menyeretku pada batas hidup dunia, tak terasa aku sudah sampai di penghujung hari.<br />
Apakah benar sekarang aku berada di penghujung waktu?<br />
Yang ku tahu waktu telah mengajakku berjalan-jalan di kehidupan yang fana ini. Kadang aku terlena dengan pesonanya, kadang aku membencinya, kadang aku apatis akan geraknya, kadang aku pasrah dan menangis tak tahu lagi ini fana atau baqa. Mungkin perasaan itu fana karena memang aku berada di alam fana.</p>
<p>Hari ini gerimis, kemarin juga gerimis, mungkin besok juga gerimis. Tetapi tidak seharian gerimis, karena ketika sore menjelang sinar mentari datang, lembayung merah menghiasi ufuk timur dengan seberkas mentari yang masih menyinari. Indah….</p>
<p>Jakarta, 14 Juli 2010</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/puisi/'>Puisi</a> Tagged: <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/gerimis/'>gerimis</a>, <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/senja/'>senja</a>, <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/waktu/'>waktu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=47&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jujur itu Berani</title>
		<link>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/jujur-itu-berani/</link>
		<comments>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/jujur-itu-berani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 06:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Anak]]></category>
		<category><![CDATA[berani]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motekar.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini matahari bersinar dengan teriknya. Brakkk… terdengar suara pintu yang tertutup keras membahana ke sekeliling rumah. Tata berlari masuk rumah tanpa salam. Bunda Tata yang sedang memasak di dapur langsung ke depan. “Ada apa Ka, kok seperti terburu-buru?” Tanya Bunda. “Tata sakit perut Bun… mau ke kamar mandi,” jawab Tata sambil lari ke arah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=31&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang ini matahari bersinar dengan teriknya. Brakkk… terdengar suara pintu yang tertutup keras membahana ke sekeliling rumah. Tata berlari masuk rumah tanpa salam. Bunda Tata yang sedang memasak di dapur langsung ke depan.</p>
<p>“Ada apa Ka, kok seperti terburu-buru?” Tanya Bunda.</p>
<p>“Tata sakit perut Bun… mau ke kamar mandi,” jawab Tata sambil lari ke arah kamar mandi.</p>
<p>“Sepatunya lepas dulu Ka,” tegur Bunda.</p>
<p>“Iya Bun…” jawab Tata sambil melepas sepatunya di depan kamar mandi.</p>
<p>Tidak hanya sepatu yang Tata lepas, tetapi juga topi di kepala serta tas ransel yang masih ada di punggungnya.</p>
<p>Melihat Tata seperti itu Bunda hanya geleng-geleng kepala. Tata sudah kelas 4 SD, tapi karena jarak usia yang jauh dengan adiknya, Titi, yang sekarang baru 1 tahun, sehingga Tata terlihat masih sangat manja. Bunda kembali masuk dapur, dan meneruskan masaknya.</p>
<p>“Bunda… Tata sakit perut Bun… padahal sudah ke kamar mandi,” rengek Tata sambil masuk ke dapur.</p>
<p>“Tadi Kaka Tata makan apa di sekolah?” Tanya Bunda sambil ngiris bawang merah.</p>
<p>“Tata makan masakan Bunda,” jawab Tata.</p>
<p>“Hmmm… “</p>
<p>“Bunda nggak percaya ya sama Tata?” Tanya Tata meringis.</p>
<p>“Bunda percaya sama Tata,” jawab Bunda tersenyum. Bunda berhenti mengiris bawang, dia menatap Tata dengan senyuman, “Selain makan masakan Bunda, Tata makan apalagi?”</p>
<p>“Makan es mambo Bun…,” jawab Tata. “Tadi waktu istirahat sekolah Tata haus banget Bun, terus Tata diajak Yuda beli es mambo di warung Bu Marni depan sekolah.”</p>
<p>“Sekarang Kaka masih sakit nggak perutnya?”</p>
<p>“Sakit Bun…” Tata kembali meringis kesakitan.</p>
<p>“Ya udah, Tata minum air putih dulu sama minum obat ya… biar sakitnya cepat sembuh.”</p>
<p>“Nggak mau Bunda… obatnya pahittt…”</p>
<p>“Sedikit pahit, tapi perut Tata nanti nggak sakit,” kata Bunda sambil menyiapkan obat buat Tata.</p>
<p>“Bunda… Tata nggak mau obat…pahitt…hiks hiks…” Tata mulai menangis.</p>
<p>“Sayang… Hanya sebentar kok pahitnya,” bujuk Bunda.</p>
<p>Dengan segala bujukan Bunda, akhirnya Tata mau minum obat. Meskipun sedikit pahit, Bunda langsung memberi minum air putih sehingga pahitnya tidak terasa lama. Bunda mengganti pakaian Tata dan menidurkannya.</p>
<p>“Bunda… maafin Tata ya…” kata Tata setelah berbaring di tempat tidur.</p>
<p>“Iya, Bunda maafin,” kata Bunda sambil menyelimuti Tata.</p>
<p>“Bunda…”</p>
<p>“Iya… Ada apa Ka?”</p>
<p>“Bunda jangan marah ya…” Tata diam dengan raut muka yang ketakutan, Tata berkata, “Tadi Tata makan es mambonya tiga, tapi ke Bu Marni bilang dua.”</p>
<p>“Astaghfirullah…” terdengar suara Bunda yang kaget. “Kenapa berbohong Ka?” tanya Bunda lembut.</p>
<p>“Tata mau bilang tiga… tapi uangnya nggak cukup.” Tata diam lagi.</p>
<p>“Sayang… kalau jajan, harus bilang apa aja yang dibeli ke ibu warungnya. Tidak boleh ngambil tiga, tapi bilangnya dua. Jadi harus tetap bilang tiga. Kalau uangnya nggak cukup, tetap harus bilang bahwa uangnya nggak cukup.”</p>
<p>“Iya Bunda…Tata sakit karena bohong sama Bu Marni ya Bun…hiks…hiks…Tata kapok nggak akan bohong lagi,” Tata menangis.</p>
<p>“Iya sayang, kamu jangan pernah berbohong lagi ya Ka… Berbohong itu dosa.”</p>
<p>“Iya Bunda…”</p>
<p>“Bunda senang kamu sudah jujur sama Bunda, tapi kamu juga harus jujur sama Bu Marni.”</p>
<p>“Iya Bun… Besok Tata mau minta maaf sama Bu Marni, dan bayar es mambo satunya lagi.”</p>
<p>“Bagus… orang berani itu adalah orang yang jujur.”</p>
<p>“Berarti, Tata pemberani ya Bun…”</p>
<p>“Iya, kamu pemberani.” Bunda tersenyum. “Sekarang Tata bobo siang dulu ya, semoga sakitnya cepat sembuh.”</p>
<p>“Kebesaran seseorang terletak dalam kejujurannya, bukan pada keberaniannya. Sebab keberanian belum tentu sama dengan kejujuran, sedangkan kejujuran itulah sebetulnya keberanian.”<strong> (Imam Malik)</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://motekar.wordpress.com/category/cerpen-anak/'>Cerpen Anak</a> Tagged: <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/berani/'>berani</a>, <a href='http://motekar.wordpress.com/tag/jujur/'>jujur</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/motekar.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/motekar.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=motekar.wordpress.com&amp;blog=5158052&amp;post=31&amp;subd=motekar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://motekar.wordpress.com/2011/06/02/jujur-itu-berani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6434c4a0ccd8448c5546405f8713b64?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
